Senin, 04 Juli 2016

BANK ASI

Bank ASI amat diperlukan, mengingat betapa pentingnya embentukan bank ASI sebagai salah satu usaha dalam meningkatkan penggunaan ASI dan kesehatan bayi-bayi baru lahir, terutama dirumah sakit besar. Di Indonesia, masih terdapat beberapa hambatan dalam pengadaan bank ASI, sehingga perlu diteliti secara mendalam dan dipersiapkan secara bai. Beberapa hambatan yang terdapat dalam pembentukan bank ASI adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang masih sangat minim. Oleh karena itu, masyarakat perlu diberikan pengetahuan mengenai pentingnya pemberian ASI, sehingga ibu terdorong untuk memberikan ASI untuk bayinya.
2. Adanya angapan masyarakat bahwa pengadaan bank ASI memerlukan biaya yang mahal dan perlu ditunjang dengan sarana medis yang memadai. Oleh karena itu, bank ASI dimulai dalam bentu micro pilot project. Mengingat masih adanya hambatan-hambatan dalam masyarakat, maka diharapkan masalah bank ASI ini juga bisa ikut dibahas dan disbarluaskan oleh Departemen Agama, Departemen Penerangan, Departemen Perindustrian, serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
3. Perlunya diadakan penelitian bank ASI yang menyangkut aspek medis, ekonomi, pdikososiologis.
4. Berhubung belum terbentuknya bank ASI di rmuah-rumah sakit dan dirumah bersalin di Indonesia, maka untuk mengatasi masalah bayi-bayi yang sangat mmembutuhkan ASI perlu di kembangkan penggunaan ASI lain (wet nurse). Hali ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak dengan tetap meperhatikan ajaran agama masing-masing.
Salah satu keberhasilan menyusui adalah memiliki persediaan ASI atau ank ASI, sehingga bayi dapat terus minumm ASI walaupun ibunya bekerja.

ALAT-ALAT YANG DIBUTUHKAN
Alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan bank ASI adalah sebagai berikut :
1. Freezer dirumah atau dikantor. Jika tidak ada, dapat digunakan lemari es biasa atu termos dengan diisi batu es.
2. Kantong plaastik (biasa untuk gula) ukuran ½ kg.
3. Gelas minum bersih.
4. Spidol permanen.

MEMERAH DAN MENYIMPAN ASI
Setidaknya sebulan sebelum masuk kerja, mulailah memerah ASI dengan tangan.
Cara memerah ASI adalh sebagai berikut :
1. Perah areola (bagian gelap disekitar puting).
2. Selanjutnya tekan areola denganritme persis seperi bayi yang mengisap.
3. Arahkan aliran ASI ke gelas bersih.
4. Tuliskan tanggal pemerahan pada kantong plastik gula dengan spidol permanen.
5. Masukan ASI kedalam kantong plastik,ikat dan simpan dalam freezer.
DUA MINGGU SEBELUM BEKERJA
Mulailah berlatih emberikan Asi perahandengan sendok. Saat kembali bekerja, usahakan memerah dari kedua belah payudara minimal empat jam sekali sebanyak 3 kali selama am kerja. Simpan ASI perahan dengan plastik di dalam freezer kantor atau termos es.

POLA PENYUSUAIAN IBU BEKERJA
Malam hari susui bayi sesering ungkin dan selama mungki. Jika bayi sudah memasuki usia 6 bulan, berikan makanan pendamping semi padat pada saat ibu bekerja, dan hentikan makanan / minuman apapun pada pukul 17.00.
Berikut ini jadwal penyusunan pemberian ASI pada ibu yang bekerja :
1. Pukul 06.00 susui bayi sekenyang-kenyangnya.
2. Pukul 07.00 ibu berangkat bekerja.
3. Pukul 08.00-17.00 bayi diberikan ASI perahan di rumah.
4. Ibu memerah ASI pada pukul 10.00,14.00 dan 16.00.
5. Tepat pada pukul 17.00 ibu mwninggalkan kantor.
 contoh :
Hentikan pemberian ASI perahan kepada bayi tepat pukul 17.00, hingga saat ibu datang, bayi segera dapat menghisap ASI dari Ibu. Pada malam hari susui ibu sesering dan selama mungkin.

MENCAIRKAN ASI BEKU
Berikut ini adalah cara  untuk mencairkan ASI beku :
1. Siapkan air hangat suam kuku didalam rantang atau panci kecil.
2. Taruhlah plastik berisi ASI beku dalam air hangat tersebut. ASI akan mencair dalam waktu kurang dari 5 menit.
Contoh :
1. Jangan biasakan memberi susu formula. Sebab ia akan kenyang dan kurang mengisap ASI. Jika isapan berkurang, otomatis produksi ASI menurun.
2. Jangan gunakan dut, agar bayi tidak bingung puting. Akibatnya bayi akan menolak payudara ibu.
3. Jangan khawatir jika bayi yang diberi ASI tidak bang air setiap hari. Sebab hampir seluruh bagian ASI bermanfaat dan tis\dak harus dibuang.

PENYIMPANAN ASI
Asi yang dikeluarkan dapat disimpan untuk beberapa saaat dengan syarat berikut :
1. Diudara bebas terbuka : 6-8 jam
2. Di lemari es (4⁰C) : 24 jam
3. Dilemari pendingin / beku (-18⁰C) : 6 bulan




SUMBER :
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika

BONDING ATTACHMENT

A. Definisi

Pengertian Bonding Attachment menurut beberapa ahli, antara lain :
1. Klausa dan Kennel (1983): Interaksi orangtua da bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensorik pada beberapa menit dan jam pertama segera setelah lahir.
2. Nelson (1986): bonding adalah dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara antara orangtua dan bayi segera setelah lahir, sedangkan attachment adalah ikatan yang terjalin diantara individu yang meliputi pencurahan perhatian, yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.
3. Bennet dan Brown (1999): Bonding adalah terjadinya hubngan orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, sedangkan Attachment adalah pencurahan kasih sayang antara individu.
4. Brozelton (dalam Bobak,1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antara orangtua dan anak pada pertemuan pertama.
5. Parmi (2000): suatau usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespons antara orang tua dan bayi baru lahir.
6. Perry (2002): bonding adalah proses pembentukan atau membangun ikatan, sedangkan attachment adalah suatu ikatan khusus yang dikarakterisasi dengan kualitas-kulakitas yang terbentuk dalam hubungan orangtua dan bayi.
7. Subroto (cit Lestari,2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
8. Maternal Nonatal Health : kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses pesalinan, dimulai saat persalinan kala III sampai dengan postartum.

Jadi berdasarkan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bounding attachment adalah suatu ikatan yang terjadi diantara orangtua dan bayi baru lahir, yang meliputi pemberian kasih sayang dan pencurahan perhatian yang saling tarik menarik.
Menurut Mercer (1996) prakondisi yang memengaruhi ikatan adalah sebagai berikut.

1. Kesehatan emosional orangtua
Orangtua yang menghaapkan anak dalam kehidupan mereka akan memberikan respons emosi yang positif terhadap bayi. Respons emosi yang dihasilkan oleh orangtua yang tidak ingin memiliki anak tentu berbeda. Respons emosi yang positif akan memperkuat ikatan yang terbentuk antara orangtua dan bayinya.
2. Sistem dukungan sosial yang meliputi pasangan hidup, teman, dan keluarga.
Pasangan hidup, teman dan keluarga yang mendukung kehadiran sang bayi akan memberikan semangat dan dorongan yang positif bagi ibu mencurahkan kasih sayang penuh kepada bayinya. Hal ini tentu memperkuat ikatan antara ibu dan bayinya.
3. Sesuatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten.
Semakin terampil orangtua dalam mengasuh bayi, akan semakin mudah Bonding attachment terbentuk.
4. Kedekatan orangtua dengan bayi.
Dengan metode rooming in kedekatan antara orangtua dan bayi dapat terjalin secara langsung dan mempercepat terwujudnya ikatan batin antara keduanya.
5. Kecocokan orangtua-bayi (termasuk keadaan, tempramen dan jenis kelamin)
jika bayi dalam keadaan sehat, tidak rewel dan berjenis kelamin sesuai dengan harapan orangtua, bayi tersebut akan lebih mudah membentuk ikatan dengan kedua orangtuanya.

B. Tahapan Bonding Attachment

a. Perkenalan (acquaintance) dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya. Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari iktan ialah perkenalan.
b. Bonding (keterikatan).
c. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.

C. Elememen Bonding Attachmen

a. Sentuhan
Sentuhan, atau indra peraba, dipakai secara ekstensif oleh orangtua dan pengaruh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. Berdasarkan penelitian, pola sentuhan yang hampir sama, misalnya orangtua atau pengasuh lain mulai dengan menggunakan jari tangan untuk mengeksplorasi bagian kepala dan tungka kaki. Lalu, dilanjutkan dengan menggunakan telapak tangan untuk mengelus badan bayi dan akhirnya memeluk dengan tangannya (Rubin, 1963; Kennel,1982; Tulman, 1985). Pola gerakan seperti ini dapat digunakan untuk memenangkan bayi.
b. Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu membaca secara fungsional mempertahankan kontak mata, orangtua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennel, 1982).
c. Suara
Saling mendengar dan merespons suara antara orangtua dan bayinya juga penting. Orangtua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
d. Aroma
Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter; Cernoch, Perry, 1983). Sementara itu, bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma air susu ibunya (Stainto, 1985).
e. Entrainment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orangtuanya. Entrainment trjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi yang efektif yang positif.
f. Bioritme
Bayi yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah mmembentuk ritme personal (bioritme). Orangtua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan prilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
g. Kontak dini
Saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orangtua-anak. Namun, menurut Klaus,Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini, yaitu:
Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat, refleks mengisap dilakukan lebih dini, pembentukan kekebalan aktif dimulai,serta proses ikatan antara orang tua dan anak dipercepat.
h. Body warmth
i. Waktu pemberian kasih sayang
j. Stimulasi hormonal

D. Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bonding Attachment

a. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
b. Adanya sentuhan orangtua pertama kali.
c. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orangtua ke anak.
d. Kedua orantua terlibat dalam proses persalinan.
e. Terdapat persiapan perawatan bayisetelah lahir sebelumnya.
f. Adaptasi.
g. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
h. Fasilitas untuk kontak lebih lama.
i. Penekanan pada hal-hal positif.
j. Adanya perawat maternitas khusus atau bidan.
k. Anggota keluarga lain ikut terlibat.
l. Informasi bertahap mengenai bonding attachment.

E. Keuntungan Bonding Attachment

Dampak positif dari bonding attachment untuk bayi adalah bayi merasa dicintai, diperhatikan, percaya diri, merasa aman, menimbulkan sikap sosial, serta berani mengeksplorasi lingkungan barunya.

F. Hambatan Bonding Attachment

a. Kurangnya sistem pendukung.
b. Ibu dengan resiko (ibu sakit).
c. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi denagn cacat fisik).
d. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.

G. Perilaku Orangtua yang Mempengaruh Bonding Attachment

Perilaku orangtua yang dapat mempengaruhi bonding attachmnt antara orangtua dan bayi baru lahir, terbagi mmenjadi perilaku memfasilitasi dan perilaku penghambat.
a. Perilaku memfasilitasi
Menatap, mencari ciri khas anak.
Kontak mata.
Memeberikan perhatian.
Menganggap anak sebagai individu yang unik.
Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
Memberikan senyuman.
Berbicara/bernyanyi.
Menunjukan kebanggan pada anak.
Mengajak anak ke acara keluarga.
Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
Bereaksi positif terhadap perilaku anak.
b. Perilaku menghambat
Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
Menganggap anak sebagi sesuatu yang tidak disukai.
Tidak menggenggam jarinya.
Terburu-buru dalam menyusui.
Menunjukan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.

H. Peran Bidan dalam Mendukung terjadinya bonding Attachment

a. Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca persalinan.
b. Memberikan dorongan pada ibi dan keluarga untuk memberikan respons positif tentang bayimya, baik melalui sikap maupun uucapan dari tindakan.
c. Pada saat pemeriksaan dalam perawatan antenatal, bidan selalu mengungatkan ibu untuk menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar.
d. Mendorong ibu untuk selalu mengajak janin bekomunikasi.
e. Mendukung ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam merawat anak agar setelah lahir nanti ibu tidak merasa berkecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan.
f. Jika kondisi tidak memungkinkan untuk melaksanakan salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah elahiran, hendaknya ibu dan bayi tidak benar-benar dipisahkan. Berusahalah mengundang rasa penasaran ibu untuk mengetahui keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya. Pada kasus ibu atau bayi dengan resiko, ibu dapat tetap melakukan bonding attachment ketika ibu memberikan ASI kepada bayinya atau ketika mengunjungi bayi diruang perinatal.


SUMBER :
Saputra, Lyndon. 2014. Asuhan Neonatus,bayi dan Balita. Tangerang: Binarupa Aksara

Minggu, 03 Juli 2016

PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA

Perdarahan kehamilan muda adalah salah satu dari banyak bahaya yang dapat etrjadi pada kehamilan muda. Perdarahan yang dapat dikatakan perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 22 minggu.
Tanda dan Gejala
1. Pada wanita yang anemia, penyakit radang panggul (pelvic flammatory disease, PID), gejala abortus atau keluhan nyeri yang tidak biasa, kemungkinan terjadi kehamilan ektopik.
2. Pada wanita usia reproduktif yang mengalami terlambat haid dan mempunyai satu atau lebih tanda,seperti :
Perdarahan,kaku perut,pengeluaran sebagian hasil konsepsi,dilatasi serviks atau uterus yang lebih kecil  dari biasanya, kemungkinan terjadi abortus.

Diagnosis 
1. Pikirkan kemungkinan abortus pada wanita usia reproduktif yang terlambat haid dan mempunyai satu atau lebih tanda,seperti: 
Perdarahan,kaku perut,penyakit radang panggul,pengeluaran hasil konsepsi,serviks berdilatasi atau uterus lebih kecil dari usia kehamilan.
2. Pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita dengan anemia,penyakit radang panggul,gejala abortus atau keluhan nyeri yang tidak biasa.


Tanda dan Gejala Diagnosis :
Perdarahan berupa bercak hingga sedang
Serviks tertutup
Uterus sesuai dengan usia kehamilan
Nyeri perut bagian bawah
Uterus lunak

Diagnosis : abortus iminens

Perdarahan berupa bercak hingga sedang
Serviks tertutup
Uterus sesuai dengan usia kehamilan
Nyeri perut bagian bawah
Nyeri goyang porsio
Terdapat cairan bebas intra-abdomen

Diagnosis : Kehamilan ektopik terganggu


Perdarahan berupa bercak hingga sedang
Serviks terbuka / tertutup
Uterus lebih kecil dari usia kehamilan
Ada / tanpa sedikit nyeri perut bagian bawah
Adanya riwayat ekspulsi (pengeluaran) hasil konsepsi

Diagnosis : Abortus inkomplit

Perdarahan sedang hingga banyak
Serviks terbuka
Uterus sesuai dengan usia kehamilan
Nyeri perut bagian bawah
Ekspulsi sebagian hasil konsepsi

Diagnosis : Abortus komplit

Perdarahan sedang hingga banyak
Serviks terbuka
Uterus lunak dan lebih besar dari usia kehamilan
Nyeri perut bagian bawah
Keluar jaringan seperti buah anggur
Perdarahan berupa bercak hingga sedang
Serviks tertutup
Uterus sesuai dengan usia kehamilan
Nyeri perut bagian bawah
Uterus lunak

Diagnosis : Mola hidatiosa

3. Pikirkan kemungkinan kehamilan mola pada wanita dengan perdarahan dengan gambaran mirip preeklamsia.

Tindakan
1. Lakuakan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien,termasuk tanda-tanda vital (TD, RR, Nadi).2. Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik kurang dari 90 mm Hg, nadi >120 kali/menit)3. Jika dicurigai syok, lakukan penanganan.4. Jika pasien dalam keadaan syok pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu.5. Pasang infus dengan jarum infus besar, dengan laritan RL (Ringer laktat)dengan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama).


SUMBER : Ylaikhah,lily. 2009. Seri asuhan Kebidanan KEHAMILAN. Jakarta: EGC